Cara Menghadapi Emosi Anak yang Meledak: Tips Parenting (Bagian 2)

Ledakan emosi pada anak sering kali membuat orang tua kewalahan dalam menghadapinya, terutama ketika mereka berteriak, menangis, berguling dilantai dan tidak mau diajak berkomunikasi. melihat perilaku anak yang seperti, adakalanya orang tua terpancing emosi dengan membentak atau memukul anaknya. 


Keterbatasan pengetahuan terkadang menjadi penyebab orang tua gagal membangun komunikasi dengan anak. Mereka mengasuh dan membimbing anak dengan cara sederhana atau ala kadarnya yaitu sesuai dengan pengetahuannya. 

Hal ini tidak salah, namun bagi orang tua yang menempuh pendidikan tinggi maka mereka harus mendidik dan mengasuh anaknya dengan benar.

Dalam psikologi perkembangan, emosi anak yang meledak terjadi karena mereka belum memiliki kemampuan untuk mengatur dan mengontrol emosinya. Artinya, bagian otak yang mengatur emosi (sistem limbik) bekerja lebih domain dari pada bagian yang mengatur diri, logika dan pengambilan keputusan (korteks prefrontal).

Jadi, perkembangan yang tidak seimbang ini membuat anak-anak terkadang berteriak dengan keras, menangis dengan keras, atau berguling-guling dilantai ketika keinginannya tidak terpenuhi. Dalam kondisi ini, seorang anak tidak bisa menenangkan dirinya sendiri, ia membutuhkan orang tuanya.

1. Tenangkan Diri Dulu

Langkah pertama dalam cara menghadapi emosi anak yang meledak adalah orang tua harus tenang dan mengendalikan emosinya. Artinya ketika anak sedang marah, orang tua jangan ikut marah. Jika orang tua terpancing dan ikut marah maka persoalannya tidak selesai dan anak tidak mendapatkan pelajaran apa pun.

Oleh sebab itu, ketika sedang menghadapi anak sedang marah dan berteriak, emosinya meledak atau sedang tantrum orang tua orang tenang dan sabar. 

Kunci utama dalam menghadapi emosi anak adalah memberikan validasi tentang perasannya, tindakan sederhana ini bisa menurunkan emosi anak secara perlahan. jadi, emosi anak jangan dilawan.

Dalam psikologi perkembangan, pendekatan ini bisa disebut sebagai "co regulation", yaitu proses ketika orang tua membantu menenangkan emosi anak melalui ketenangan dan kehadirannya secara langsung. Dengan kata lain, anak belajar tenang karena melihat orang tuanya tetap tenang.

2. Bantu Anak Mengenali Emosi

Setelah anak mulai tenang dan emosinya menurun, orang tua berkomunikasi dengan menyatakan empati kepada anak. Orang tua ikut merasakan apa yang dialami anak. Ini penting karena anak-anak belum memiliki kosakata emosional, yaitu kemampuan untuk menyatakan perasaannya, seperti marah, kecewa dan sedih.

Oleh sebab itu, orang tua bisa memulainya dengan kalimat yang sederhana.

Contohnya:

Ketika anak usia 5–8 tahun marah dan menangis keras karena tidak boleh memakai HP, orang tua tenang dan mendekat di samping anak. Lalu orang tua berkata: "Mama tahu kamu marah," tapi kamu belum boleh memakai HP ya, karena ini bahaya dan umur kamu belum cukup. "Nanti kalau kamu sudah besar, Mama akan belikan yang paling bagus."

Kalimat di atas adalah kalimat validasi emosional. Artinya, orang tua mengakui dan menghormati perasaan anak, meskipun tidak menyetujui permintaannya. 

Dari sini anak akan belajar, tidak semua yang diinginkannya bisa diperoleh dengan mudah. Anak juga belajar tentang "tidak hari ini, tetapi butuh waktu." Dengan demikian, anak menyadari bahwa dirinya masih kecil, dia akan melihat sekitarnya dan menyadari hal itu. 

Setelah anak tidak menangis dan mengenali emosinya, arahkan dia untuk menyalurkan emosi dengan dengan lebih benar. 

Misalnya:

  • Memberinya minum air putih dan mengajaknya untuk menulis atau menggambar
  • Mengajak anak bermain bola (jika laki-laki) atau mengajak anak belajar berhitung

Dengan begitu, orang tua sedang mengarahkan atau mengalihkan perhatian anak dari HP kepada kegiatan nyata yang bermanfaat untuk belajar. 

Pola asuh ini sangat dalam membentuk "sosial emosional." Artinya, seorang anak memiliki kemampuan untuk memahami, mengelola dan mengekspresikan emosinya dalam kehidupan sehari-hari di lingkuan sekitarnya.

Kesimpulan: Cara Menghadapai Emosi Anak

Cara menghadapi emosi anak yang meledak menjadi bagian pnting dalam pola asuh anak. Karena membantu perkembangan anak dalam mengelola emosi membutukan proses dan waktu yang panjang.

Ketika orang tua memiliki ketenangan, maka bisa membantu anak mengenali serta menyalurkan emosinya dengan benar.

Jadi, menghadapi anak yang emosi membutuhkan ketenangan dan bukan ditakut-takuti. Melalui pendektan ini, anak tidak hanya tenang dalam menghadapi masalah, tetapi pertumbuhan emosionalnya bisa stabil. 

Harapannya seiring waktu, anak-anak dapat tumbuh dewasa dengan emosi yang stabil, bertanggung jawab dan bisa menghadapi berbagai persoalan di kehidupan nyata.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url