Cara Mengelola Emosi Anak: Tips Parenting (Bagian 1)
Mengelola emosi anak sering kali dipahami maknanya sebagai upaya agar anak menjadi tenang dan patuh ketika sedang marah. Padahal, masalahnya bukan terletak pada emosi anak, melainkan terletak pada cara orang tua dalam memberi respon terhadap emosi itu.
Oleh sebab itu, penting sekali untuk memiliki pengetahuan tentang pola asuh anak, terutama dalam hal mengelola emosi anak.

Ingat, seorang anak belum memiliki kemampuan untuk mengendalikan perasaannya. Oleh sebab itu, biasanya mereka sangat bergantung kepada bagaimana cara orang tua meresponi dirinya. proses inilah yang membentuk anak belajar untuk mengontrol emosinya.
1. Tetap Tenang Saat Anak Emosi
Secara umum, orang tua terkadang panik ketika melihat anaknya menangis histeris atau mengamuk secara keterlaluan. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana caranya supaya orang tua tidak terpancing marah, tetapi tetap tenang. Seorang anak perlu diajarkan bahwa tidak semua yang ia mau dapat diperoleh dengan mudah.
Jika anak menangis karena meminta mainan yang mahal atau ingin menggunakan HP, maka ajarkan bahwa belum waktunya dia untuk memiliki. Jika anak menangis karena itu, maka biarkan dia menangis dulu.
Selanjutnya, jika anak sudah tenang maka orang tua bisa memeluk dan menggendongnya serta mengatakan: "bukan tidak boleh, tetapi kamu belum boleh menggunakannya, besok kalau umurnya sudah cukup akan dibelikan."
Dengan demikian, anak menjadi tenang, karena kelak ketika umurnya sudah cukup orang tuanya akan membelikan. Ketika anak emosional dan marah, ia tidak bisa mengendalikan diri, dia membutuhkan sentuhan dari kedua orang tuanya sehingga menjadi tenang.
Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Daniel Goleman. Menurutnya, kemampuan anak dalam mengelola emosinya bertumbuh dan berkembang melalui pengalaman langsung bersama orang tuanya.
Contohnya sederhana:
Ketika seorang anak marah karena keinginannya tidak dituruti, orang tua bisa berkata dengan tenang kepada anaknya: "Kamu marah ya, tapi kita tetap tidak bisa membelinya sekarang.” Jawaban ini tegas, tapi tidak menyalahkan atau menyudutkan anak.
2. Membantu Anak Mengenali Emosinya
Pada praktiknya, banyak orang tua yang fokus pada menghentikan tangisan anak, tetapi mereka tidak membantu anak memahami perasaannya.
Akibatnya, anak merasa tidak diperhatikan dan menganggap orang tua tidak memahami perasaannya. Dengan demikian, akhirnya seorang anak tidak belajar apa apa tentang mengontrol emosinya.
Oleh sebab itu, orang tua perlu untuk menenangkan dan membantu anak mengenali dan mengontrol emosinya, supaya anak tidak meluapkannya secara berulang-ulang.
Pada tahap inilah peran orang tua dalam "mengenali" perasaannya sangat penting. Cara ini sangat sesuai dengan "emotion coaching" dari John Gottman. Teorinya menekankan bahwa emosi anak harus dikenali dulu, baru selanjutnya adalah diarahkan.
Sebagai contoh:
Anak sedang batuk, tetapi ingin minum es. Ketika anak menangis dan meminta membeli es, maka orang tua jangan langsung berkata "kamu jangan menangis."lebih baik berkata: "Kamu jangan minum es dulu ya, karena masih batuk."
Sama-sama kalimat sederhana tetapi memiliki maknya yang berbeda. Kalimat kedua memberikan pengertian kepada anak, bahwa dia sedang sakit batuk sehingga tidak boleh minum es (menyentuh emosinya).
Kesimpulan: Cara Mengelola Emosi Anak
Mengelola emosi anak memang membutuhkan pengetahuan dan kecakapan, terkadang banyak orang tua yang tidak memahaminya dengan benar. Mengelola emosi ini bukan soal membuat anak berhenti menangis, tapi membantu mereka belajar menghadapi apa yang mereka rasakan.
Kuncinya utamanya ada dual hal, yakni: Bagaimana cara orang tua membuat anak tetap tenang? Dan bagaimana membantu anak mengenali emosinya?
Apabila orang mampu melakukan peranannya dengan baik, maka seorang anak dapat belajar mengontrol emosinya dengan tenang dan benar. Dari sinilah terbentuk kemampuan mengelola emosi sampai mereka dewasa dan bertanggung jawab.