Cara Menghadapi Anak yang Sulit Diatur: Tips Parenting (Bagian 3)

Cara menghadapi anak yang sulit diatur bisa dimulai dengan mengubah cara kita merespons mereka, yaitu: tenang dan sabar, tidak memarahi tanpa alasan, dan memberi batasan dan tanggung jawab. 

Mengatur dan mengasuh anak sering menjadi tantangan dan persoalan bagi banyak orang tua. Khususnya keluarga muda yang belum memiliki banyak pengalaman dalam mengasuh anak. Belum lagi, mereka memiliki kesibukan seperti harus bekerja setiap hari. 



Karena kewalahan dalam menghadapi anak, maka timbul beberapa pertanyaan. Mengapa anak semakin hari semakin sulit diatur? Kenapa anak tidak mendengarkan perkataan atau nasehat orang tua? Pertanyaan seperti ini pasti sering terlintas di pikiran para orang tua berulang kali. 

Jujur saja, menghadapi anak dalam kondisi seperti ini memang cukup melelahkan dan menguras tenaga dan juga pikiran. Apalagi jika hal semacam in terjadi hampir setiap hari. Tidak jarang orang tua yang terkadang menakut-nakuti atau memukul anak yang sulit diatur dengan harapan mereka menjadi patuh. 

Memahami Penyebab Anak Sulit Diatur

Pada tahap ini, biasanya banyak orang tua yang langsung fokus pada cara mengatasi, bukan pada mencari tahu apa yang melatarbelakangi perilaku anak tersebut. Dampaknya, solusi yang diberikan sering tidak tepat.

Yang perlu disadari, anak tidak selalu bersikap sulit karena ingin melawan. Bisa jadi mereka sedang merasa tidak dipahami, lelah, atau bahkan kewalahan dengan emosinya sendiri. Di sisi lain, pola asuh, lingkungan, dan cara komunikasi orang tua juga sangat memengaruhi sikap anak sehari-hari.

Sebelum mencari solusi, penting untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Karena sering kali, masalahnya bukan sekadar pada anak tidak patuh, tetapi pada kurangnya pengetahuan orang tua dalam mendampingi perkembangan anak.

Bagaimana cara memahami anak?

Memahami anak itu sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan, tapi memang membutuhkan hati yang sabar. terkadang kita terlalu cepat menilai, padahal anak cuma ingin didengar. Coba sesekali berhenti sebentar dan coba dengarkan cerita mereka tanpa buru-buru menyela atau mengoreksi.

Hal ini penting karena anak belum tahu cara menyampaikan perasaannya dengan benar. Oleh sebab itu, orang tua harus memiliki kepekaan terhadap segala hal yang dilakukan oleh anak.

1. Anak membutuhkan perhatian lebih

Banyak orang tua tidak sadar bahwa anak yang sulit diatur sebenarnya sedang mencari perhatian. Bahkan dimarahi pun tetap dianggap sebagai bentuk perhatian.

Anak yang terlihat sulit diatur sering kali sebenarnya cuma sedang mencari perhatian orang tua. Kadang bentuknya memang bikin orang tua lelah, karena biasanya anak rewel, suka membantah, atau menangis dengan keras.

Kalau diperhatikan lebih lebih seksama, maka di balik sikap itu biasanya ada keinginan sederhana. Mereka ingin ditemani bermain, mereka ingin didengar, atau mereka sekadar mencari memperhatikan orang tua. Bahkan teguran atau marah dari orang tua pun tetap mereka anggap sebagai perhatian.

Karena itu, sesekali orang tua untuk berhenti dan melihat dari sisi mereka. Cobalah untuk meluangkan waktu sejenak, seperti mengajak berbicara santai atau menjawab berbagai pertanyaan mereka. Hal-hal sederhana seperti itu sering kali justru jadi menjadi jawaban dari perilaku anak yang selama ini terasa sulit dipahami.

2. Anak belum bisa bisa mengontrol emosinya

Di usia tertentu, anak memang belum bisa mengontrol emosi dengan baik. Mereka hanya bisa marah, menangis, atau menolak tanpa alasan yang jelas.

Tapi kalau dipikir-pikir, mereka sebenarnya belum benar-benar paham apa yang sedang mereka rasakan. Terkadang emosi datang begitu saja, tapi juga hilang dengan cepat. Ini terjadi karena kemampuan untuk mengendalikan belum terbentuk.

Pada momen seperti itu, anak tidak sedang ingin menyulitkan orang tua. Mereka justru sedang kewalahan dengan perasaannya sendiri dan tidak tidak tahu apa yang harus dilakukan. Bayangkan saja seperti orang dewasa yang lagi bad mood, tapi bedanya anak belum tahu cara menenangkan diri atau menjelaskan apa yang terjadi.

Karena itu, sebaiknya kita sebagai orang tua tidak langsung memarahi mereka. Akan jauh lebih baik apabila mendampingi mereka secara pelan-pelan dan bantu menenangkan emosinya. Dengan berjalannya waktu, anak akan belajar mengelola dan mengendalikan emosinya, ini bukan karena dipaksa, tapi karena dibimbing dan diarahkan.

3. Terlalu banyak tekanan

Kadang tanpa sadar, anak merasa hidupnya penuh dengan berbagi aturan yang mereka sendiri tidak mengerti. Misalnya: ini tidak boleh, harus ini, ini salah, itu juga salah. Dari sudut pandang kita mungkin itu bentuk perhatian. Tapi bagi anak, bisa terasa seperti terus diawasi tanpa ruang untuk bernapas.

Jika aturan seperti itu berlanjut, maka tekanan seperti ini bisa membuat anak jadi mudah memberontak atau justru menarik diri. Bukan karena mereka tidak mau patuh, tetapi karena merasa tidak punya pilihan. Mereka ingin bercerita, bertanya dan diarahkan, bukan diatur ini itu.

Karena itu, penting memberi banyak ruang untuk mereka belajar menguasai emosinya dan mengembangkan kemampuan kognitifnya. Bukan berarti membiarkan semuanya bebas, tapi memberi kesempatan anak untuk memilih dan belajar dari situ. Saat anak merasa dipercaya, biasanya mereka juga akan lebih mudah diajak bekerja sama.

Tips Parenting Menghadapi Anak yang Sulit Diatur

Menghadapi anak yang sulit diatur memang bukan hal yang mudah. Ada kalanya kita sudah mencoba sabar, tapi tetap saja anak membangkang. Di titik itu, wajar kalau orang tua merasa lelah atau bahkan kesal.

Tapi yang menarik, menghadapi anak sebenarnya bukan soal siapa yang lebih kuat atau siapa yang harus menang. Lebih ke bagaimana kita bisa memahami mereka tanpa kehilangan arah sebagai orang tua. Kadang, yang dibutuhkan bukan cara yang keras, tapi pendekatan yang lebih tenang dan konsisten.

1. Tetap tenang saat menghadapi anak

Tetap tenang saat menghadapi anak itu terdengar sederhana tetapi tidak mudah dilakukan. Biasanya orang justru sumbu pendek, alis tidak bisa sabar. Apalagi saat anak mulai membantah atau tidak mau mendengarkan, bisanya orang tua memukul anaknya. 

Ketika anak sedang marah, menangis atau berteriak, maka ketenangan orang tua adalah kuncinya. Terkadang, reaksi yang lebih kalem justru membuat emosi anak lebih cepat mereda.

2. Gunakan komunikasi yang jelas dan sederhana

Kadang anak terlihat tidak mendengarkan, padahal sebenarnya mereka hanya bingung dengan apa yang kita maksud. Kalimat yang terlalu panjang atau terlalu umum bisa membuat anak kehilangan arah.

Coba ubah cara bicara jadi lebih sederhana dan langsung ke inti. Bukan sekadar melarang, tapi jelaskan apa yang perlu dilakukan. Anak biasanya lebih mudah merespons kalau mereka tahu dengan jelas apa yang diharapkan.

Banyak anak tidak merespons karena bingung, bukan karena tidak mau.

Dari pada berkata: "Kamu jangan nakal"

Lebih baik gunakan kata: "Tolong rapikan mainannya sekarang, ya."

Instruksi yang spesifik akan lebih mudah dipahami.

3. Beri pilihan agar anak merasa dihargai

Kadang anak terlihat menolak hanya karena merasa tidak punya pilihan. Jangan terlalu banyak larangan, tetapi dampingi dan dengarkan mereka.

Di sinilah kita memberikan pilihan dan mengarahkan. Hal ini bukan berarti membiarkan mereka bebas, tetapi memberi ruang kecil agar anak merasa dilibatkan. Misalnya, bukan langsung menyuruh, tapi menawarkan dua pilihan yang tetap kita arahkan.

Contohnya:

  • "Mau mandi sekarang atau 10 menit lagi?
  • "Mau belajar sekarang atau makan dulu?

Cara ini sederhana dan mudah dilakukan. Dari pada banyak aturan, cara ini lebih baik karena membuat anak merasa punya kendali, tapi tidak kehilangan arah.

4. Konsisten dalam aturan

Konsisten dalam aturan terlihat sederhana, tetapi dalam praktiknya orang tua sering gagal. Kadang kita melarang sesuatu hari ini, tapi karena lelah atau tidak enak hati, besok jadi membolehkan. Tanpa sadar, hal seperti ini membuat anak bingung.

Dari sudut pandang anak, aturan jadi terasa tidak jelas. Akhirnya mereka tidak belajar apa apa tentang disiplin dan tanggung jawab dari orang tuanya. 

Karena itu, konsistensi bukan soal keras atau tidak, tapi soal kejelasan supaya anak dapat belajar dari aturan tersebut. Saat aturan disampaikan dengan tenang dan diterapkan secara sama setiap waktu, anak justru merasa lebih aman. Mereka tahu apa yang boleh dan tidak, tanpa harus menebak-nebak lagi.

5. Jadilah contoh, bukan hanya pemberi perintah

Anak itu lebih cepat meniru dari pada mendengarkan perkataan orang tuanya. Misalnya kita ingin anak lebih sabar, tapi kita sendiri mudah marah, maka anak akan melihat dan menangkap itu. Bukan karena mereka tidak mau patuh, tapi karena itu yang mereka lihat setiap hari.

Karena itu, jadi contoh atau "Role Model" memang tidak selalu mudah, tapi sangat berpengaruh perilaku anak. Jadi, kita tidak perlu jadi sempurna, cukup menunjukkan sikap yang ingin kita lihat pada anak. Secara perlahan, tanpa disadari, mereka akan mengikuti dengan caranya sendiri.

6. Beri apresiasi pada usaha kecil

Sering kali kita terlalu fokus pada apa yang anak lakukan salah, sampai lupa melihat usaha kecil yang sebenarnya sudah mereka lakukan. Ingat anak-anak itu suka diperhatikan dan dihargai. Ketika mereka mendengar nasehat dan arahan dengan patuh, sebaiknya orang tua memberikan pujian kepada mereka.

Pujian atau apresiasi kecil bisa memberi dampak yang besar. Bukan harus berlebihan, cukup dengan kalimat sederhana yang tulus. Dari situ, anak merasa dihargai, diterima dan diperhatikan oleh orang tuanya.

7. Pahami karakter setiap anak itu berbeda

Selain menerapkan berbagai tips parenting, penting juga untuk menyadari bahwa setiap anak punya karakter unik. Ada anak yang cepat memahami arahan, tapi ada juga yang butuh waktu lebih lama.

Karena itu, membandingkan anak dengan orang lain bukanlah hal yang baik, anak bisa merasa tertekan, dan orang tua jadi mudah frustrasi.

Pendekatan yang tepat biasanya datang dari proses mengenal anak itu sendiri. Semakin kita paham karakternya, semakin mudah juga menemukan cara menghadapi anak yang sesuai umurnya.

9. Bangun kedekatan emosional dengan anak

Kedekatan dengan anak itu tidak selalu soal hal besar. Kedekatan emosional ini biasanya terbangun dari momen-momen sederhana, mengobrol, menjawab pertanyaan anak, tertawa bareng sebelum tidur, atau mendengarkan cerita anak yang terkadang abstrak.

Saat anak merasa dekat, mereka biasanya lebih terbuka, mudah bercerita, lebih mau mendengarkan, dan tidak merasa sendirian. Dari sinilah hubungan emosional terbentuk dan terasa hangat. Ini bukan sekadar hubungan "orang tua dan anak", tetapi juga rasa saling percaya.

Ketika kedekatan ini sudah terbangun, orang tua akan lebih mudah dalam membina, mengarahkan dan mendampingi perkembangan anak sesuai umurnya.  

10. Hargai proses kecil dalam perubahan anak

Kadang kita terlalu fokus pada hasil akhir, sampai lupa melihat prosesnya. Misalnya, anak yang biasanya tidak mau mendengarkan, lalu mulai sedikit merespons, itu sebenarnya sudah kemajuan. Walaupun kecil, tetap penting untuk dihargai.

Karena jujur saja, perubahan perilaku anak tidak terjadi dalam semalam. Ini butuh proses panjang. Dan justru dari hal-hal kecil itulah perubahan besar akan terbentuk seiring waktu.

1. Kesalahan yang Harus Dihindari

Agar proses parenting berjalan lebih efektif, hindari beberapa hal berikut:

  • Terlalu sering memarahi
  • Anak bisa menjadi kebal atau justru semakin melawan.
  • Membandingkan anak

Ini bisa menurunkan rasa percaya diri dan membuat anak semakin sulit diatur.

2. Memaksakan kehendak

Terkadang, tanpa sadar kita ingin semuanya berjalan sesuai keinginan kita. Anak harus begini, harus begitu, dan kalau tidak sesuai, langsung dianggap salah. Padahal, bagi anak, tekanan seperti itu bisa terasa berat.

Saat kehendak terus dipaksakan, anak bisa bereaksi dua arah: melawan atau justru diam dan menutup diri. Keduanya sama-sama tidak ideal. Bukan karena mereka tidak mau menurut, tapi karena merasa tidak punya ruang untuk didengar.

Terlalu memaksakan kehendak juga bisa membuat anak kehilangan kepercayaan.

Kesimpulan

Cara menghadapi emosi anak atau anak yang sulit diatur memang membutuhkan kesabaran ekstra. Tapi dengan pendekatan yang tepat, anak bisa belajar memahami batasan tanpa merasa tertekan.

Yang penting diingat:

  • Anak bukan lawan, tapi bagian dari proses belajar
  • Konsistensi lebih penting dari pada kesempurnaan
  • Setiap anak punya cara tumbuh dan belajar yang berbeda

Cara menghadapi anak yang sulit diatur memang tidak mudah, tetapi beberapa langkah penting di atas dapat membantu orang tua menghadapi dan menyelesaikan masalah anak. Tips parenting terbaik adalah yang bisa membuat anak merasa dipahami, bukan sekadar dikendalikan.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url