Peran Guru dalam Membentuk Karakter Siswa

Peran guru dalam membentuk karakter siswa memang tidak bisa tergantikan, mereka seperti seorang pelukis yang sedang memegang kuas dan membuat gambar yang indah. Meskipun beberapa gambar mungkin gagal, tapi gambar-gambar yang lain berhasil di buat dan memiliki kualitas yang tinggi.

Inilah peran guru yang hebat, mereka mengajar dan mendidik siswa selama 6 tahun di Sekolah Dasar (SD). Lalu dilanjutkan oleh guru lain selama 3 tahun di Sekolah Menengah Pertama (SMA). Dan yang terakhir dilanjutkan oleh guru di Sekolah menengah Atas (SMA).


Para peserta didik mendapatkan pelajaran, pembinaan, teguran, pengalaman dan kesan-kesan yang luar biasa selama mengikuti pendidikan 9 tahun. Ada banyak kisah di sana, dan yang terpenting adalah guru mampu menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya.

Dari sikap, perilaku atau cara berbicara, hingga kebiasaan kecil yang ditunjukkan guru di kelas bisa langsung mudah ditiru oleh siswa. Dalam proses inilah nilai-nilai religius seperti budi pekerti, akhlak, kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab mulai tertanam secara alami dalam kehidupan siswa..

1. Menjadi Teladan atau "Role Model"

Peran guru sebagai teladan atau "role model" sangat penting dalam pembelajaran di dalam kelas. Ini penting karena peserta didik belajar cenderung belajar bukan hanya dari yang mereka dengar, tetapi juga apa yang mereka lihat. 

Religius dan menjadi contoh

Kita sepakat bahwa guru yang religius tidak hanya terlihat dari pengetahuannya tentang agama, tetapi juga terlihat dari sikap dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai tersebut. Dalam kegiatan belajar mengajar sikap itu ditunjukkan melalui kesabaran, kejujuran, rendah hati, penyayang, memiliki kepekaan dan peduli kepada siswa-siswinya. 

Ingat, guru adalah "Role Model" bagi nara didiknya. Oleh sebab itu, perbuatan dan perilakunya yang terlihat mungkin akan ditiru oleh siswa-siswinya. Sebagai contoh, seorang guru suka marah-marah dan berkata kasar, maka kata-kata kasar itulah yang akan diingat bahkan ditiru oleh murid. 

Jujur dan memiliki integritas

Seorang guru sebagai pendidik harus bersikap jujur dan memiliki integritas. Sikap ini sangat penting dalam membentuk kepribadian peserta didik. Guru yang memiliki kejujuran akan menunjukkan sikap itu dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga anak-anak dapat meniru sikap tersebut.

Dalam hal integritas, guru harus berani menyatakan benar dan salah, tetapi juga membimbing mereka secara tegas. Ini penting supaya peserta didik mengerti tentang hal benar salah dan juga memiliki sikap hormat kepada guru-guru yang mengajar mereka.

Guru yang berintegritas juga tidak bersikap pilih kasih kepada peserta didik, tidak membuat aturan untuk kepentingan pribadi.

Disiplin dan tanggung jawab

Peran seorang guru dalam menanamkan sikap disiplin dan tanggung jawab tentu tidak hanya berhenti dalam hal teori saja, tetapi harus dalam wujud nyata di sekolah. Misalnya, guru harus datang ke sekolah tepat waktu, bahkan ketika masuk kelas juga harus tepat waktu supaya kegiatan belajar tidak tertunda.

Contoh lain yang bisa dilakukan guru adalah dengan menerapkan aturan yang sama dan tidak membeda-bedakan. Apabila ada siswa yang terlambat, nakal, dan melakukan kesalahan, guru harus memberikan teguran yang jelas.

Misalnya dengan mencatat nama-nama mereka dan menerapkan aturan kelas atau aturan sekolah. Dengan demikian, peserta didik memahami apa arti dari disiplin dan tanggung jawab.

2. Menanamkan Nilai-Nilai Moral

Peran guru dalam menanamkan nilai-nilai moral begitu penting, karena akhlak dan kepribadian dibentuk sejak dini. Seorang tidak hanya pandai mengajar, tetapi juga pandai dalam membimbing, mengenalkan dan mengarahkan siswa pada nilai-nilai religius, kejujuran, rasa hormat, kepedulian dan tanggung jawab.

Menanamkan sikap religius dan toleransi

Guru adalah pilar utama dalam hal menanamkan nilai-nilai moral kepada peserta didik. Guru dapat memulainya dengan cara sederhana dalam menanamkan sikap religius di sekolah. Misalnya, guru mengajak siswa berdoa sebelum pelajaran dimulai dan sesudah pelajaran sesuai dengan kepercayaannya masing-masing. 

Dalam hal toleransi, peran guru dapat dimulai dengan memperlakukan semua siswa secara adil dan tidak pilih kasih. Secara khusus tidak membeda-bedakan latar belakang suku, ras, agama, warna kulit atau identitas pribadi lainnya. 

Sebagai contoh: Dalam kegiatan belajar mengajar seperti kerja kelompok, guru tidak menggabungkan kelompok tersebut berdasarkan agama atau sukunya.

Menanamkan empati dan kepedulian

Peran Guru dalam menanamkan rasa empati dan kepedulian juga tidak kalah penting dari peran-peran lainya. Guru tidak hanya tidak hanya mengajar tentang kebaikan, tetapi juga membantu siswa memahami bagaimana merasakan dan menghargai kondisi orang lain. Nilai-nilai ini harus ditanamkan melalui interaksi di dalam kelas, seperti saling membantu atau mendoakan teman yang sedang sakit.

Contoh lain yang bisa dilakukan adalah guru mengajak siswa untuk membantu teman yang mengalami kesulitan, seperti meminjamkan pena kepada mereka yang lupa membawa alat tulis. 

Menunjukkan sikap kepedulian juga bisa dilakukan dengan menjenguk teman sekelas yang sedang sakit, lalu mendoakannya. Ada banyak contoh sederhana yang bisa dilakukan guru dalam menanamkan empati dan kepedulian

Menanamkan sikap jujur dan tanggung jawab

Pelajaran di kelas tentu tidak hanya menjelaskan tentang pengertian kejujuran dan tanggung jawab, tetapi bagaimana menerapkannya dalam tindakan yang nyata. Sebagai contoh, dalam kegiatan belajar mengajar Guru memberikan tugas tanpa pengawasan ketat dan memberikan intruksi untuk tidak mencontek, tujuannya untuk menguji kejujuran peserta didik.

Ketika ada peserta didik yang melakukan kesalahan, maka guru tidak langsung menghukum. Guru harus mengajak siswa tersebut untuk dan mengakui kesalahannya serta tidak mengulangi lagi. 

Guru juga haru membiasakan peserta didik bertanggung jawab terhadap tugas-tugas kelas, seperti membersihkan kelas dan mengumpulkan tugas tepat waktu.

3. Membimbing dan Mendidik

Peran guru dalam membimbing dan mendidik peserta didik menjadi bagian utama dalam kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Guru tidak hanya membina, tetapi juga mengarahkan dan mendampingi. Dengan peran ini, nantinya peserta didik diharapkan dapat bersikap dan mengambilkan keputusan dengan benar.

Membantu siswa memahami benar dan salah

Peran guru dalam membentuk karakter siswa tidak hanya dengan menyampaikan sebuah aturan, tetapi menjelaskan alasan dari suatu tindakan dianggap benar atau salah. Cara ini sederhana dan mudah dipahami. Peserta didik yang berkonflik atau melanggar aturan sekolah diajak untuk berpikir dan diskusi, sehingga mereka memahami dampak dari setiap tindakan yang mereka lakukan.

Contohnya: Jika terjadi konflik antar siswa, guru tidak langsung menyalahkan salah satu pihak, tetapi mengajak keduanya untuk berbicara. Setelah itu, guru menyuruh mereka menceritakan masalahnya dengan jujur dan secara bergantian. 

Setelah akar permasalahannya ditemukan, maka guru menjelaskan mengenai perbuatan yang benar dan salah. Diskusinya tidak hanya sampai di situ, guru harus memastikan bahwa siswa yang berkonflik benar-benar memahami dan mengakui kesalahannya. 

Membantu meningkatkan rasa percaya diri

Peran guru dalam meningkatkan rasa percaya diri siswa dapat dilakukan dengan memberi ruang aman agar siswa berani mencoba, berbicara, dan tidak takut salah. Dengan demikian, guru membantu peserta didik untuk mengenali dan melihat kemampuan yang dimiliki sehingga bisa dikembangkan.

Contohnya: 

Guru membuat tugas kerja kelompok. Setelah tugas selesai dikerjakan, maka setiap kelompok melakukan persentasi di depan kelas dan menjawab pertanyaan dari teman-teman mereka. Ketika ada siswa ragu atau salah, guru mendampingi dan memberikan dukungan serta arahan. 

Setelah persentasi selesai, guru dapat memberikan apresiasi sederhana kepada siswa yang berani mencoba menjawab berbagai pertanyaan dari teman-teman di kelas. 

4. Menciptakan Lingkungan Belajar Aman an Nyaman

Peran guru dalam membentuk karakter siswa dapat dapat dilakukan dengan menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman. Misalnya, guru mampu mengelola dan menjaga suasana kelas tetap tenang dan kondusif. Peserta didik bisa belajar dengan lebih leluasa, mereka tidak takut diejek, diganggu atau dimarahi. 

Menciptakan kelas yang aman dan nyaman

Di kelas yang sehat selalu ada guru yang berintegritas. Setiap nara didik bisa belajar dengan tenang setiap pelajaran kelas dimulai. 

Suasana kelas bukan tempat yang menakutkan, tetapi menjadi tempat yang wajar bagi peserta didik ketika melakukan kesalahan. Kelas yang sehat selalu menjadi tempat bertanya dan juga tempat diskusi.

Apabila ada peserta didik yang salah jawab, maka guru tidak boleh langsung menyudutkan. Guru dapat menggunakan bahasa yang santai, seperti "Coba kita lihat bareng ya, bagian mana yang keliru." Ketika ada peserta didik yang jail dan mengganggu temannya belajar, guru menegur mereka dengan lembut tapi tegas. 

Misalnya, "Rendy, dari pada mengganggu teman belajar, coba kamu maju ke depan dan mengerjakan soal nomor 5." Ini adalah teknik pengalihan, dengan demikian peserta didik menjadi fokus pada pelajaran di kelas.

Membentuk kelompok belajar

Saat guru membentuk pembelajaran kelompok, perannya bukan hanya membagi siswa secara acak, tetapi juga harus memastikan setiap siswa merasa diterima dan tidak tersisih. 

Dalam hal ini, guru harus memiliki kepekaan terhadap dinamika kelas supaya tidak ada siswa yang merasa dikucilkan atau atau tidak diterima oleh rekan-rekannya. Dari cara pembagian kelompok inilah suasana aman, Kerjasama dan tanggung jawab dapat terbentuk secara alamiah.

Sesekali guru harus mengatur dan membagi kelompok dengan sengaja agar siswa yang pendiam bisa satu tim dengan yang lebih aktif. Tapi ingat, guru juga harus memperhatikan, jangan sampai ada peserta didik yang tidak diterima dalam kelompok. Apabila ada peserta didik yang terlihat tidak nyaman, maka guru harus mengambil tindakan yang tepat. 

Kesimpulan: Peran Guru dalam membentuk Karakter Siswa

Berdasarkan penjelasan di atas maka banyak sekali peran guru yang memiliki pengaruh besar dalam dunia pendidikan, tetapi tidak terlihat langsung oleh kita. Peran guru dalam bersikap, memperlakukan siswa, sampai mengelola kelas, secara perlahan akan membentuk karakter dan akhlak yang baik bagi peserta didik.

Adapun nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, toleransi, tanggung jawab, empati, sampai rasa percaya diri tidak tumbuh dari satu pelajaran saja. Nilai-nilai ini tumbuh dari kebiasaan yang terus menurus dan dialami peserta didik di sekolah melalui pengajaran dan pembinaan guru. 

Bahkan hal sederhana seperti cara guru menegur, memberi contoh, atau mengatur kelompok belajar, ikut membentuk bagaimana siswa belajar bersikap terhadap orang lain. Jadi, guru bukan hanya orang yang pandai mengajar di kelas, tapi juga sosok yang ikut membentuk cara siswa melihat dunia dan berperilaku di dalamnya. "Terima kasih Guru."


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url